Salin dan tempel kode AdSense di antara tag pada situs Anda Tempatkan kode ini pada setiap halaman di situs Anda dan Google akan secara otomatis menampilkan iklan di semua tempat terbaik untuk Anda Filman 12

 Gue pernah nyobain hidup tanpa nasi. Serius, kayak orang bule gitu. Makan pagi telur, makan siang dada ayam sama brokoli, malamnya cuma minum infused water... tiga hari kemudian gue mimpiin nasi uduk pake semur jengkol. Kebayang kan seberapa beratnya hidup tanpa nasi buat anak Indonesia?

Tapi beneran deh, dampak positif nggak makan nasi itu banyak. Salah satunya... lo bisa tiba-tiba punya bentuk badan yang baru. Bukan six pack dulu sih, tapi paling nggak... perut lo nggak goyang kayak jelly tiap naik motor. Apalagi kalo dikombinasiin sama olahraga, wah, badan bisa sekilas mirip atlet. Atlet senam pemula, tapi ya udah lumayan lah.

Terus ya, energi lo juga bisa lebih stabil. Dulu gue makan nasi padang, abis itu 15 menit kemudian langsung pengen tidur siang. Cuma gara-gara rendang nempel di nasi anget. Sekarang pas udah nggak makan nasi, gue jadi lebih sadar sama hidup. Sadar kalau ternyata lapar itu nyiksa banget.

Tapi hati-hati, stop makan nasi tuh harus kuat mental. Karena lo bakal dikatain orang rumah. "Lah, kamu nggak makan nasi? Lagi kenapa? Lagi ada masalah ya?" Padahal cuma pengen sehat. Jadi kesimpulannya: dampak positif nggak makan nasi itu ada, tapi dampak negatifnya... kamu bisa dianggap alien di rumah sendiri.

 Diderot Effect adalah sebuah konsep psikologi dan perilaku konsumsi yang menggambarkan bagaimana satu pembelian atau perubahan kecil dapat memicu rangkaian pembelian dan perubahan gaya hidup yang lebih besar. Nama "Diderot Effect" berasal dari filsuf dan penulis Prancis abad ke-18, Denis Diderot.

Asal-usul Nama dan Cerita Diderot Effect

Cerita ini berasal dari pengalaman Diderot sendiri. Dia membeli sebuah mantel baru yang indah, tetapi setelah memilikinya, dia merasa bahwa rumah dan barang-barangnya yang lama tidak lagi cocok dan terlihat tidak serasi. Akibatnya, dia merasa perlu membeli barang-barang baru untuk menyesuaikan penampilannya dan atmosfer rumahnya, yang akhirnya membuatnya mengubah seluruh gaya hidup dan keuangannya.

Pengertian Diderot Effect

Diderot Effect menggambarkan fenomena di mana satu pembelian atau perubahan kecil memicu kebutuhan untuk melakukan perubahan besar lainnya agar tetap terlihat konsisten dan harmonis secara visual, sosial, atau psikologis.

Contoh Diderot Effect

  • Membeli pakaian baru yang mewah, lalu merasa perlu mengganti perabotan rumah agar sesuai dengan gaya baru tersebut.
  • Mendapatkan gadget terbaru dan merasa harus membeli aksesori atau perangkat lain yang sesuai.
  • Mengubah penampilan dan kemudian merasa harus memperbarui seluruh gaya hidup dan barang-barang yang terkait.

Mengapa Penting?

Konsep ini penting karena menunjukkan bagaimana keputusan konsumsi tidak selalu berdiri sendiri, melainkan bisa memicu perubahan berantai yang berdampak pada keuangan, gaya hidup, dan psikologi seseorang.

Ringkasan

  • Diderot Effect adalah fenomena di mana satu pembelian atau perubahan kecil memicu rangkaian perubahan besar untuk menjaga konsistensi penampilan atau gaya hidup.
  • Nama ini berasal dari pengalaman filsuf Denis Diderot yang merasa perlu mengubah banyak aspek hidupnya setelah membeli barang tertentu.

 Orang pintar itu tidak punya tempat di Indonesia.

Ambil contoh saja om Deddy Corbuzier.

Awal beliau terjun ke dunia YouTube kan suka buat video mengedukasi, dan penontonnya dia panggil dengan sebutan "smart people".

Kemudian pindah haluan jadi tukang podcast.

Awal-awal beliau nge-podcast sebenarnya bintang tamunya masih oke. Beberapa politikus dan orang-orang berkredibilitas tinggi diundang untuk berbincang-bincang dengan om Deddy.

Kemudian makin lama tamu yang diundang makin tidak berfaedah, sehingga akhirnya saya berhenti total nonton podcastnya.

Terakhir saya lihat sih podcast nya sekarang sudah jadi tempat bincang-bincang gosip yah, itu pun saya lihat karena disaranin sama algoritma tiktok dan reels.


Om Deddy saja sadar, bahwa orang pintar itu tidak punya tempat di Indonesia.

Makanya saya yakin, itu alasan beliau segera pindah haluan ke konten tidak berfaedah seperti gosip, karena mayoritas orang Indonesia sukanya konten seperti itu.

Untuk konten yang mengedukasi, om Deddy tinggal nyuruh saja konten kreator yang berada di bawah naungan Close The Door.


Jadi, bagaimana caranya untuk meminimalisir terjadinya Brain Drain di Indonesia?

Make smart people look cool again.

.

Manusia itu bergerak menuju ke mana insentif itu diberikan.

Kalau insentif berupa duit, kuasa, dan ketenaran itu diberikan kepada orang-orang bodoh, ya semua orang akan berlomba-lomba menjadi orang bodoh.

.

Lihat saja berapa banyak orang yang jadi terkenal karena hal—hal tidak berfaedah yang mereka lakukan.

Joget sadbor lah, joget pargoy lah, joget papi chulo lah.

Ketenaran mereka pun semakin teramplifikasi ketika mereka diundang ke acara-acara televisi, dan ke podcast-podcast orang seleb terkenal lainnya.

Akhirnya, semua orang berbondong-bondong untuk melakukan hal-hal tidak berfaedah.

.

Sedangkan orang-orang pintar di negeri ini yang berniat mengedukasi melalui konten mereka, hanya mendapatkan secuil insentif yang saya sebutkan di atas, karena target pasar mereka memang kecil.

Bahkan jika konten edukasi mereka menyinggung pemerintahan, mereka malah diserang balik oleh pemerintah menggunakan buzzer-buzzer yang pemerintah bayar menggunakan uang dari pajak kamu dan saya!


Brain Drain di Indonesia tidak terelakkan.

Di Indonesia, orang pintar itu tidak ada harga dirinya.

Malahan, pemerintah dengan sengaja membuat rakyat tetap bodoh, agar mudah dimanipulasi.

 

  1. Prinsip "Pohon Terbalik".Kebanyakan orang belajar dari dasar ke puncak. Coba balik - mulai dari hasil akhir yang pengen dicapai, terus mundur pelan-pelan ke basic-nya. Kayak pohon yang dibalik, kita lihat buahnya dulu baru ke akarnya. Cara ini bikin motivasi belajar lebih kuat karena kita udah tahu mau kemana.
  2. Teknik "Zona Buta". Tahu gak? 80% waktu belajar kita itu sebenernya cuma ngulang-ngulang yang udah kita tahu. Coba deh bikin "peta buta" - tulis semua yang belum kita pahami tentang suatu topik. Fokus ke situ. Ini lebih efektif daripada ngulang-ngulang yang udah kita kuasai.
  3. Sistem "Rotasi 4-2-1". Bagi waktu belajar jadi tiga sesi: 4 jam buat exploration, 2 jam buat practice, 1 jam buat teaching. Cara ini ngikutin ritme alami otak dalam proses nyerap informasi baru.
  4. Metode "Zona Nol". Mulai tiap sesi belajar dengan kondisi "nol" - anggep kita gak tau apa-apa tentang topik itu. Buang semua asumsi. Cara ini ampuh buat hindarin "curse of knowledge" - kondisi dimana kita merasa udah ngerti padahal belum.
  5. Teknik "Echo Learning". Habis belajar sesuatu yang baru, tunggu 24 jam. Terus coba inget-inget tanpa liat catetan. Tulis apa yang masih keinget. Bandingin sama materi asli. Cara ini bisa ningkatin daya ingat sampai 70% lebih efektif.
  6. Teknik STAR (Stop-Think-Act-Review). Ini metode sederhana tapi ampuh. Saat belajar sesuatu, berhenti sejenak. Pikirkan apa yang sudah dipahami. Lakukan aksi berdasarkan pemahaman itu. Terakhir, evaluasi hasilnya. teknik ini meningkatkan daya serap otak hingga 40%.
  7. Istirahat Mikro. Bukan tidur siang yang lama, tapi istirahat pendek 3-5 menit setiap 25 menit belajar. Sistem ini mirip teknik Pomodoro, tapi lebih pendek intervalnya. Otak butuh jeda untuk memproses informasi baru.
  8. Teknik Asosiasi Warna. Setiap konsep penting, beri warna berbeda. Misalnya merah untuk definisi, biru untuk contoh, hijau untuk kesimpulan. Otak kita lebih mudah mengingat informasi yang terkait dengan warna spesifik.
  9. Metode "Apa Kalau". Saat mempelajari sesuatu, selalu tanyakan "apa yang terjadi kalau...?" Cara ini melatih otak berpikir lebih dalam dan membuat koneksi baru antar konsep.
  10. Metode "Guru Bayangan". Bayangkan sedang mengajar orang lain tentang apa yang sedang dipelajari. Jelaskan sedetail mungkin seolah-olah ada murid di depan. Cara ini memaksa otak memproses informasi lebih dalam. Saat kita bisa menjelaskan sesuatu dengan baik, artinya kita benar-benar paham.

 Ini relate untuk kampus medioker (papan tengah) ke bawah ya. Kurang relate buat kampus-kampus yang anggep programming itu craftmanship dan konteksnya untuk fresh graduate atau mahasiswa yang sedang kuliah di semester 6 keatas di indonesia. Yang kita bahas sekarang adalah basic coding. Terdiri dari 3 hal. Tipe data, looping dan branching

Sebagai orang yang lumayan sering interview anak informatika yang ga bisa coding sama sekali (mostly kampus papan tengah kebawah). Saya punya alasan masuk akal. Kenapa banyak yang tidak bisa pemrograman.

  1. SALAH MASUK JURUSAN. kampus informatika ini banyak banget, merebak kayak jamur di musim hujan mulai dari kelas teri sampe kelas top. Kampus kelas teri bisa buka jurusan informatika ya karena infrastruktur nya murah, tapi menjanjikan penghasilan besar. Bener-bener sexy, dream banget dan karena biayanya murah. lebih mudah diakses secara umum.

    Nah. Inilah jebakan informatika. Devils in the details. Dikiranya jurusan teknik informatika ini cuman ngetik-ngetik microsoft word doang atau semudah bikin power point. Ada mahasiswa yang hobby nya gambar kartun masuk informatika. Ya gitulah realita kuliah informatika kampus medioker di indonesia.

    Banyak banget mahasiswa yang kaget pas liat mata kuliahnya, ternyata mata kuliahnya diluar CC otak yang dimiliki. bisa bikin akun instagram di kampung, udah dianggap ahli IT. dikira sudah eligible untuk masuk informatika. waktu masuk informatika, zonk. 
    apa itu aljabar linear? gue kira ga bakal dapet matematika lagi kalo ambil ini jurusan.
  2. Nyonteknya gampang, source code bertebaran. tiap dosen kasih tugas tinggal googling, copy paste. Kirim ke dosen deh. bodoamat, ngerti engga apa yang diketik. yang penting dapet nilai. Saya pernah interview orang yang banyak dapet A. tapi ga bisa coding deret bilangan prima. Deret….. Bilangan…. Prima. Saya ga minta algoritma yang bagus-bagus loh, asal input dan output nya sesuai aja. Biasanya buat kampus papan tengah kebawah, soal yang saya kasih itu bertahap. Soal 1. Deret bilangan prima. Soal 2. Sorting object. Soal 3. Nah ini baru seru. Bikin algoritma masking number. Semuanya saya suruh dengan kondisi internet mati, boleh pilih bahasa pemrograman apapun yang paling dikuasai. Kenapa internet mati? karena 3 soal itu cuman butuh 3 hal. 1. array, 2. if/else. 3. Looping. kalo basic nya sudah susah. ya sudah…. memang susah. mau saya tanya soal functional programming atau graph juga buang-buang waktu.
  3. Kampusnya medioker. Ini menyebabkan proses belajar mengajar juga susah, sudahlah mahasiwa nya bukan mahasiswa super. Beberapa dosennya juga cuman kasih teori tapi ga pernah disuruh praktek sendiri di kelas. karena ga bisa coding juga kali ya dosennya? kalo bener ya kecewa sih tapi ga kaget. akhirnya karena cuman baca slide aja, mereka ga pernah get in touch dengan coding. kenapa saya berani ngomong gini? karena saya pernah dibayar buat ngisi "tutorial" buat salah satu kampus papan tengah kebawah. anak-anaknya masya allah, top bener.

    Saya biasanya kalo jadi tutor, hal pertama yang saya lakukan adalah. nulis program sederhana di slide dan mahasiswa nya saya suruh 
    "ayo buat program kayak gini, bebas mau tulis ulang apa buat sendiri". kenapa saya lakuin ini? KARENA KETAUAN, ADA YANG BAHKAN GA FAMILIAR SAMA CODING. CUMAN NYALIN CODE SEDERHANA AJA BISA BIKIN COMPILER ERROR !!!!!!!!!!! ga saya salah-salahin loh itu codingnya. saya cuman suruh untuk retype aja error. tandanya emang ini mahasiswa ga biasa coding. nah kalo kampus yang rada bagusan. biasanya saya tulis program sederhana, mereka nulis itu program sendiri dan works as well. tapi sayangnya saya ga punya kesempatan sih dapet mahasiswa yang gitu hehehe. pernah dapet yang kayak gini, anak kelas 2 smp yang lagi persiapan OSN komputer. ya bener, pinteran anak SMP kelas 2. daripada beberapa oknum mahasiswa.

    Buat mahasiswa informatika yang baca. Walau kamu bisa kasih liat karya crud kamu, android apps kamu atau bla bla bla keren pokoknya. tapi kalo basic coding 3 hal itu (branching,looping dan tipe data) kamu ndak bisa. ya saya kecewa sih, tapi ga kaget. kan emang ikutin tutorial gampang, ga perlu tau maksud code nya apa.
  4. Terpenting. Di banyak kampus, ga bisa coding itu tetep bisa lulus informatika. Dah itu paling penting, kalo ga bisa coding ga bisa lulus mungkin beda cerita. Padahal ga jago coding gapapa, asal bisa basic nya. Sebagai gambaran seberapa top nya salah satu kampus informatika di indonesia:

Transkrip

wartawan : "mata kuliah yang mba ikutin apa aja?"

mahasiswa : "banyak"

wartawan : "yang favorit nya mba apa?"

mahasiswa : "aduh banyak sekali"

wirtawan : "yang favorit pasti ada"

mahasiswa : "ada ikomersi, banyak pokoknya"

wartawan : "ikomersi itu tentang apa mba?"

mahasiswa : "tentang web kayak gitu…. yang lain aja deh "

Have a nice day

Subscribe Here

Popular Posts